Joged Porno

joged_porno.jpg  

Mungkin sudah basi dan banyak yang telah menonton adegan video durasi pendek ‘Joged Buang’ atau Joged Porno seperti cuplikan pada gambar diatas yang telah tersebar luas di hand phone-hand phone di masyarakat dan dengan mudah dapat didownload di situs porno. Apa pendapat anda setelah menontonnya?? Ada yang bilang waaah, Hot, bikin badan panas dingin, menggairahkan, sexy, aduhaiii, atau malah memuakkan....??

Waktu pertama kali saya melihat adegan itu saya sangat geram, jengkel, memalukan, menjijikkan, pokoknya saya sebagai orang Bali tidak bisa terima. Saya sempat ditanya oleh seorang Bule, dia tanya apakah memang seperi itu tarian Bali? Dengan sedikit emosi saya jawab Joged Buang itu penarinya bukan penari Bali tapi WTS yang di bayar untuk menari!! Saya Bukannya munafik, kalo penarinya pakai baju lain atau malah telanjang dan menari di tempat lain mungkin saya akan senang menonton tapi karena dalam video itu joged bumbung yang disakralkan di Bali serta penarinya itu merupakan ‘pregina’ dan mempunyai dewa sungsungan atau jujugan oleh penari Joged Bumbung maka yang dilakukan wanita penari itu sangat menampar dan merupakan penghinaan bagi orang Bali, budaya Bali, kesakralan Bali. Masyarakat bali sebenarnya menolak Undang-Undang Anti Porno Grafi dan Porno Aksi tapi Jangan salah gunakan kesenian sebagai ajang Porno Grafi dan Porno Aksi donk! Joged Buang yang ditampilkan itu merupakan porno aksi dan tidak mendidik sama sekali, lihatlah yang menontonya banyak anak-anak kecil dan orang tua disana, jangan meracuni anak-anak kecil dengan hal yang tidak beres seperti itu!

Memang joged bumbung ada goyangnya serta sedikit menggoda karena pengibingnya itu lawan jenis tapi yang dilakukan Joged Buang itu kelewat batas, apalagi penarinya TIDAK pakai CD (celana dalam). Kalau alasnnya Joged Buang itu menampilkan porno aksi demi menyemarakkan suasana, membuat penonton senang, demi uang, dan lain-lain maka alasan itu tidak bisa diterima, banyak alternatif cara-cara lain yang bisa ditempuh demi menyemarakkan suasana, membuat penonton senang, dan demi uang semata tanpa mengorbankan adat, budaya dan kesakralan Bali.

Apakah tidak ada lagi norma sosial, rasa malu, nilai kesopanan dalam masyarakat? Siapa yang harus bertanggungjawab terhadap hal ini? Apakah Polisi sudah mengusut tuntas? Apakah tidak ada pembinaan, aturan bagi orang yang berkesenian? Apalagi Menteri Kebudayaan & Pariwisatanya adalah orang Bali sendiri ‘yang murah senyum’ di TV.

Source : www.perdulibali.blogspot.com


  Artikel Lain :
   
     
       
 
 
   
Copyright © 2008 STDharmaKerthi.com
Home | Tentang Kami | Pengumuman | Agenda Kerja | Berita | Artikel | Gallery | Blog | Buku Tamu | Site Map
 
Remember Our Website : www.stdharmakerthi.com