Tidak terasa sebentar lagi masyarakat hindu akan merayakan hari Raya Nyepi Caka 1930. Nyepi merupakan tahun baru bagi umat hindu dan dirayakan lain daripada yang lain, kalau tahun baru yang lain dirayakan secara meriah, penuh pesta dan makan-makan maka Nyepi dirayakan dengan penuh keheningan, tapa brata, kesunyian, tanpa aktivitas dan tanpa cahaya. Setelah satu tahun beraktivitas penuh maka dengan adanya Nyepi kita mengistirahatkan segala aktivitas fisik, pikiran, pekerjaan dan benda-benda yang setiap hari kita geluti, sampai-sampai pelabuhan dan bandara udara juga di Bali di istirahatkan dari aktivitas.
Makna Nyepi yang lain adalah sebuah ritual penyucian mikrokosmos dan makrokosmos atau juga disebut bhuwana alit (alam manusiawi) dan bhuwana agung (alam semesta).Tujuan dari ritual ini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyan (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan dan keindahan). Sebelum pelaksanaan ritual perayaan Nyepi, umat Hindu melakukan pertobatan (Melasti) untuk melebur segala macam kotoran baik yang merusak pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Upacara ini juga diiringi dengan perolehan air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan. Selanjutnya, sehari sebelum perayaan nyepi, dilakukan upacara tawur yang bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan alam manusia (bhuwana alit) dan alam semesta (bhuwana agung) dengan menyesuaikan tempat, waktu dan situasi masing-masing (desa, kala, patra), pada malam harinya disebut Pengerupukan dengan mengarak Ogoh-ogoh (boneka raksasa yang menyeramkan yang merupakan simbol dari segala yang jahat dan kotor, pada akhirnya akan dibakar sebagai simbol pembersihan / penyucian dunia dari hal buruk menyambut tahun yang baru) keliling kampung atau kota.Pada puncak perayaan nyepi, umat Hindu melakukan catur brata penyepian (tidak makan minum, tidak bekerja, tidak berpergian dan tidak menyalakan api / penerangan).
Tetapi dimasyarakat banyak juga kita lihat pada saat Nyepi justru digunakan untuk acara makan-makan (ngelawar), judi, bercengkrama dijalan dan sepak bola di jalan walaupun sudah ada Pecalang yang berpatroli mengawasi (tetapi Pecalang juga manusia yang harus melakukan tapa berata penyepian tetapi kok keluar rumah?). Yang anehnya justru pada malam hari para Pecalang suka menyalakan senter besar dan diarahkan ke udara (seperti laser awan) dan ini terjadi di berbagai tempat, kalau tidak percaya silahkan ada berada di Kerobokan-Kuta pada saat malam penyepaian maka anda akan melihatnya sendiri. Beberapa tahun yang lalu juga Nyepi dinodai dengan perusakan / penyerbuan rumah. Dan setelah Nyepi keesokan harinya kita merayakan “Ngembak Geni” dengan pergi ke pantai atau ke sumber air suci untuk membersihkan diri dan saat ngembak geni umat melakukan dharma santi (ibadah sosial) berupa silaturahim kepada sanak kerabat dan masyarakat di lingkungan masing-masing, baik lingkungan tetangga maupun lingkungan kerja. Di samping itu, juga dilakukan beragam kegiatan keagamaan, seperti dharma wacana, dharma gita, dharma tula (diskusi), pentas seni keagamaan dan pemberian punia pada yang patut menerimanya. Tetapi pada kenyataanya tidak seperti demikian, kebanyakan orang pergi kepantai untuk berekreasi saja dan siangnya pergi ke Mall.
Memang manusia tiada yang sempurna dan semua itu kembali kepada diri kita sendiri, tetapi disaat nyepi merupakan waktu yang tepat bagi kita memanfaatkannya untuk merenungi diri, mengendalikan diri dan mengetahui sesungguhnya siapa diri kita.
Source :
www.perdulibali.blogspot.com