Makna Ogoh - Ogoh


Hari raya nyepi selalu didahuli oleh prosesi pengerupukan, tepatnya sehari sebelum nyepi. Pengerupukan selalu ditunggu oleh masyarakat terlebih oleh anak-anak muda karena dimalam pengerupukan akan diarak ogoh-ogoh keliling desa dan keliling kota diiringi gambelan beleganjur, kentogan dan muda mudi yang ikut mengarak dengan membawa obor. Ogoh-ogoh sendiri merupakan ‘boneka raksasa’ yang berukuran besar dibuat menyeramkan, berupa binatang, raksasa, buta kala yang melabangkan hal yang negatif pada diri manusia atau pun dialam semesta.

 

Ogoh-ogoh ada sekitar tahun 80an, yang menggagas disebut-sebut adalah mantan Gubernur Bali Ida Bagus Mantra yang juga merupakan tokoh budayawan Bali yang selalu mempunyai terobosan inovatif dan mengakomodasi ide / kreatifitas anak muda dan seniman yang dihubungkan dengan ritual keagamaan Hindu menjelang Nyepi yaitu ogoh-ogoh dilambangkan sebagai sifat buruk dalam diri manusia, kebencian, keserakahan, kemabukan, iri hati, ketamakan, loba yang mengkristal selama satu tahun dimana prosesi akhir setelah diarak ogoh-ogoh itu akan dibakar / dimusnahkan sebagai simbol penyucian sifat-sifat buruk manusia. Dan ditahun yang baru diharapkan kita terlahir kembali bersih dan selalu berbuat Dharma sesuai ajaran agama.

Ogoh ogoh jaman dulu dibuat dari rangka kayu dan bambu sederhana, rangka dibentuk lalu dibungkus kertas. Saat ini para pembuat ogoh-ogoh makin berinovasi membuat rangka ogoh-ogoh dari besi yang dirangkai, bambu yang dianyam pembungkus bodi ogoh-ogoh pun di ganti dengan gabus atau stereofoam dengan teknik pengecatan modern yang akhirnya terjadi pembengkakan biaya dalam pembuatannya, tetapi umumnya tidak menjadi soal karena biasanya didapat dari sumbangan masyarakat dan para pelaku bisnis. Tema ogoh-ogoh pun semakin berfariasi, dari tema pewayangan, modern, porno sampai politik yang tidak mencerminkan makna agama. Tema ogoh-ogoh yang diharapkan adalah sesuai dengan nilai agama Hindu yaitu tidak terlepas dari Tuhan, Manusia dan Buta Kala sebagai penyeimbang hubugan ketiganya. Ogoh-ogoh simbol Kala ini haruslah sesuai dengan sastra agama yang diatur dalam pakem dan bukan seperti yang beberapa dibuat saat ini, karena banyak kita lihat kala dibuat berbentuk manusia lucu, Rocker, punk, inul, manusia / raksasa sexy dan seronok. Tapi dari sudut pandang lain mengatakan ogoh-ogoh itu merupakan kreativitas anak muda yang mengekploitasi bentuk gejala alam dan fenomena sosial yang terjadi dimasyarakat saat ini jadi tidak perlu adanya pembatasan ataupun pengekangan dalam berekspresi.

By: Don


    Artikel Lain :
    Joged Porno
Bali Tenggelam
Jangan Bugil Di Depan Kamera
Nyepi
Perspektif tentang organisasi
Pemerintah Menghadang Pornografi di Internet
Sosok Pemimpin Bali
Apakah Demo Harus Anarkis?
Hak Paten Oleh Asing
Bikini Putri Indonesia
 
         
 
 
 
   
Copyright © 2008 STDharmaKerthi.com
Home | Tentang Kami | Pengumuman | Agenda Kerja | Berita | Artikel | Gallery | Blog | Buku Tamu | Site Map
 
Remember Our Website : www.stdharmakerthi.com